Thursday, April 24, 2014

Ketika Makkah menjadi seperti Las Vegas

Ketika melihat buku ini di Gramedia beberapa waktu lalu, saya langsung menyambarnya dan membaca rangkuman di belakang buku ini. Saya prihatin kalau tidak dibilang cukup nyinyir dengan perubahan fisik yang terjadi di Mekkah, meskipun saya belum pernah ke sana. Dan saya cukup puas, karena buku ini memenuhi keinginan saya. 

Sebagai seorang peminat sejarah, tentu hati saya teriris setiap kali mendengar bahwa banyak situs bersejarah di kota Mekkah dihancurkan atas nama perluasan mesjid Haram dan menampung jemaah haji. Memang benar, jemaah haji makin banyak tetapi tidak bisa menjadi alasan untuk membongkar situs-situs bersejarah. Para haji ingin napak tilas perjuangan nabi Muhammad dan nabi Ibrahim tetapi jejaknya sudah disapu bersih oleh pemerintah Saud.




Buku ini ternyata tidak menceritakan mengenai situs-situs yang tergusur atas nama keperluan haji, tetapi lebih jauh menganalisa mengenai agama, politik dan ideologi. Seperti rangkuman di belakang buku ini, "Ketika kekuatan kapitalis mendistorsi konsep agama, agama terancam tinggal menjadi wujud tanpa signifikansi."

Ya, apa yang diharapkan ketika seseorang ingin napak tilas merenungi perjalanan sebuah agama besar di dunia, tetapi tonggak-tonggak bangunan kesejarahan sudah berganti menjadi hotel mewah dan mall yang menjual barang-barang branded, tak ubahnya kota metropolis di benua lain.

Buku ini bagus dibaca oleh mereka yang (mau) berpikir kritis dan pengamat sejarah. Saya pribadi, semakin banyak membaca mengenai perubahan Mekkah, Mekkah pun tidak lagi menjadi tujuan utama travelling saya. Mekkah hanya menjadi salah satu kota yang akan saya kunjungi suatu hari nanti. Kalau pun saya ke sana, saya harus bersiap-siap beribadah tanpa mendapat "sentuhan kesejarahan kebesaran agama Islam di masa awalnya".  

No comments:

Post a Comment