Wednesday, April 30, 2014

15 Anak Genius Peraup Dolar

Kalau anda bingung dengan gaji yang pas-pasan, sedangkan kebutuhan hidup terus meningkat, serasa tutup lobang gali lobang, saya menyarankan anda untuk membaca buku ini.



Saya suka membaca buku-buku orang yang berhasil. Dan orang yang berhasil, biasanya adalah orang yang optimis, orang yang terus bermimpi, orang yang terus melangkah. Ini menjadi inspirasi buat saya, dan bisa jadi buat anda.  

Anak-anak ini yang sekarang sudah menjadi mahasiswa kaya raya, dulunya adalah anak-anak biasa, yang minta uang jajan dengan orangtua, tapi mereka kreatif. Ada yang memang minta uang jajan untuk berbisnis, ada juga yang karena hobi utak atik internet, ternyata kok ya apa yang diutak atik diminati orang, bisa dijual, dalam harga yang tinggi pula. 

Cameron Johnson memulai bisnisnya dengan melelang boneka-boneka adiknya yang terlalu banyak di eBay. Setelah sukses, dia merambah ke bisnis lain yang terkait dengan internet. Farrah Gray memulai bisnis dengan berjualan batu pengganjal pintu dan body lotion buatan ibunya. Setelah sukses dia mengajak anak-anak muda sekitar untuk menjadi wirausaha muda. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya. 

Apakah anda harus berbisnis di internet seperti mereka? Pilihannya tergantung pada anda. Anda yang paham kualitas dan kemampuan diri anda sendiri. 

Saya sendiri selain mengajar bahasa Jerman secara privat, saya juga berjualan mainan pendidikan secara online, melalui beberapa blog saya. Hasilnya lumayan, meskipun tidak stabil dan tidak dapat dipastikan. Tetapi setiap minggu selalu saja ada penjualan. Penjualan terbesar saya adalah menjual puzzle rubics dengan nilai Rp 20 juta. Alhamdulillah, keuntungan penjualan mainan pendidikan secara online selama ini bisa membantu saya membeli laptop dan membiayai internet bulanan saya. Dan saya melakukannya sendirian, karena belum berani membayar seseorang untuk membantu saya. Saya mendapatkan murid pun sekarang kebanyakan dari blog saya www.les-bahasa-jerman.blogspot.com.

Saya tidak mau berjualan pakaian, meskipun penjualan pakaian menduduki tempat teratas. Saya bukan orang yang fashionable, orang yang paham pergerakan model baju dan saya tidak mau ikut-ikutan model baju yang sedang populer. Beberapa orang yang saya kenal berjualan baju secara online dan sangat laku. Ada murid saya yang dokter dan akan melanjutkan kuliah spesialis ke Jerman, dan dia mengaku berjualan baju secara online sejak SMA! Memang dia adalah orang yang cukup trendy, jadi tahu selera pasar dan setiap hari mengirim paling tidak 10-20 bungkusan baju kepada pembelinya. 

Adik saya berjualan busana muslim melalui akun Facebook-nya. Dia pergi ke Tanah Abang dan membeli baju katakanlah 30-40 potong, karena naik bis dan kereta api, jadi tidak mampu membeli terlalu banyak. Ketika anaknya sudah makan dan tidur, dia memotret baju-baju tersebut. Nanti ketika anaknya bangun dan bermain dengan anak tetangga, dia meng-uploadnya di akun Facebook-nya. Hasilnya, luar biasa, dari 30-40 baju yang di-upload, dalam waktu 1-2 hari itu baju yang laku mencapai 20-30 potong. Andaikan dia mengambil keuntungan 10-20 ribu per potong, dalam waktu 2-3 hari keuntungan yang diperolehnya sekitar 200 ribu - 300 ribu, bahkan bisa lebih. Satu bisnis yang lumayan untuk seorang ibu rumah tangga.   

Jadi, tentukan minat anda dahulu sebelum melangkah berbisnis online. Saya rasa banyak keterampilan, barang dan jasa bisa dijual di jaman ini untuk mendapatkan uang secara halal tanpa tergantung orang lain atau pemerintah. Ah ya, sumber ide yang paling saya sukai adalah duduk dan mengamati serta ngobrol dengan para pengirim paket di kantor JNE. Melihat mereka mengirim paket-paket ke pembeli mereka bisa memberikan semangat kepada saya.     

Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah

Saya tak pernah membayangkan Turki, ketika tiba-tiba ditawarkan untuk pergi ke Turki oleh kantor. Turki yang saya kenal adalah Turki di jaman Kemal Ataturk dalam pelajaran sejarah di sekolah, orang Turki yang menjadi Gastarbeiter atau kuli bangunan di Jerman pasca PD II ketika kuliah bahasa Jerman di IKIP Jakarta dan Turki yang barangnya murah-murah, promosi teman-teman yang pergi ke Eropa dan transitnya di Turki. Dan ketika tiba di Turki, Turki luar biasa mempesona saya. Tidak hanya landsekap kotanya dan bangunannya yang mirip-mirip Austria, tetapi juga karena sejarahnya yang luar biasa. Ketika menjejak di Istanbul, saya sekejap lupa bahwa kekaisaran Islam terbesar dan terakhir adalah Kekhalifahan Usmaniyah yang berada di Turki. Berkeliling Istanbul beberapa hari, membuat saya berjanji untuk mempelajari kembali sejarah Turki dan kekhalifahan Usmaniyah atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Ottoman Empire.



Buku ini merupakan buku pertama yang saya beli di Jakarta sepulang dari Turki. Buku yang cukup tebal, 698 halaman dan hard cover. Dari daftar isinya terlihat kalau buku ini cukup komprehensif. Dimulai dari Asal usul bangsa Turki yaitu kesultanan Saljuk atau Seljuk. Bab II mengisahkan terbentuknya Khilafah Turki Utsmani dan era perintisan. Bab III adalah tentang Kepemimpinan Muhammad Al Fatih dan Penaklukan Konstantinopel. Bab IV menceritakan Sultan dan Tokoh Besar setelah Era Muhammad Al Fatih. Bab V menceritakan Awal Kemerosotan Khilafah Utsmaniyah. Bab VI Masa Pemerintahan Sultan Abdul Hamid, di sini Turki mulai "berkenalan" dengan kemajuan Eropa. Bab VII Sebab-sebab Runtuhnya Pemerintahan Utsmani.   

Buku ini cukup lengkap dan disajikan dengan kronologis. Tetapi gaya bercerita ini khas Timur Tengah yang kadang lompat ke beberapa masalah, sebelum kembali ke tempatnya semula. Hal yang tidak terlalu memenuhi selera saya, kelihatan sekali tujuan penulisan dan pencetakan buku ini adalah untuk menentang Barat dan penarikan kesimpulan bahwa keruntuhan kekhalifahan Utsmaniyah adalah merosotnya keimanan atau secara ringkas dengan alasan agama. Padahal, bisa jadi ada alasan lain. Misalnya setelah Turki menjadi negara sekuler, maka salah satu yang kasat mata adalah perubahan seragam tentara Turki yang begitu mirip dengan Eropa. 

Buku ini bukan merupakan kajian kritis, tetapi data-datanya luar biasa dan perlu dimiliki oleh mereka yang ingin mengetahui sejarah Turki, demikian juga mereka yang ingin mengetahui kebesaran kekhalifahan Utsmaniyah.     

Thursday, April 24, 2014

Ketika Makkah menjadi seperti Las Vegas

Ketika melihat buku ini di Gramedia beberapa waktu lalu, saya langsung menyambarnya dan membaca rangkuman di belakang buku ini. Saya prihatin kalau tidak dibilang cukup nyinyir dengan perubahan fisik yang terjadi di Mekkah, meskipun saya belum pernah ke sana. Dan saya cukup puas, karena buku ini memenuhi keinginan saya. 

Sebagai seorang peminat sejarah, tentu hati saya teriris setiap kali mendengar bahwa banyak situs bersejarah di kota Mekkah dihancurkan atas nama perluasan mesjid Haram dan menampung jemaah haji. Memang benar, jemaah haji makin banyak tetapi tidak bisa menjadi alasan untuk membongkar situs-situs bersejarah. Para haji ingin napak tilas perjuangan nabi Muhammad dan nabi Ibrahim tetapi jejaknya sudah disapu bersih oleh pemerintah Saud.




Buku ini ternyata tidak menceritakan mengenai situs-situs yang tergusur atas nama keperluan haji, tetapi lebih jauh menganalisa mengenai agama, politik dan ideologi. Seperti rangkuman di belakang buku ini, "Ketika kekuatan kapitalis mendistorsi konsep agama, agama terancam tinggal menjadi wujud tanpa signifikansi."

Ya, apa yang diharapkan ketika seseorang ingin napak tilas merenungi perjalanan sebuah agama besar di dunia, tetapi tonggak-tonggak bangunan kesejarahan sudah berganti menjadi hotel mewah dan mall yang menjual barang-barang branded, tak ubahnya kota metropolis di benua lain.

Buku ini bagus dibaca oleh mereka yang (mau) berpikir kritis dan pengamat sejarah. Saya pribadi, semakin banyak membaca mengenai perubahan Mekkah, Mekkah pun tidak lagi menjadi tujuan utama travelling saya. Mekkah hanya menjadi salah satu kota yang akan saya kunjungi suatu hari nanti. Kalau pun saya ke sana, saya harus bersiap-siap beribadah tanpa mendapat "sentuhan kesejarahan kebesaran agama Islam di masa awalnya".