Tuesday, September 23, 2014

Main Reksa Dana untuk Pemula

Kata-kata berinvestasi, reksa dana dan saham sudah bermain dalam pikiran saya sejak bertahun-tahun lalu. Maunya sih investasi tapi apa daya, pemasukan ternyata sama dengan pengeluaran. Ada kelebihan setiap bulannya, tapi gak banyak. Tapi kalau cuma menabung di bank saja, hasilnya tidak banyak. Belum lagi dengan inflasi, padahal biaya hidup di masa depan pasti akan lebih tinggi daripada sekarang. Jadi saya mesti cari alternatif lain. 

Saya pun mulai melirik reksa dana kembali dan ngobrol sana sini ternyata sejumlah sepupu saya sudah berinvestasi di reksa dana. Ternyata investasinya gak besar-besar amat, seratus ribu sebulan juga sudah bisa. Nah, kalau begini cocok lah dengan kemampuan kantong saya. Tetapi reksa dana yang mana yang dipilih? Meski ada prospektus, fund fact sheet, laporan keuangan setiap reksa dana, tetap saya gak mudeng. Sekali lagi saya beruntung, karena ada sepupu yang bekerja sebagai akuntan dan sudah mengambil sejumlah reksa dana. Jadi saya mengekor dia saja, karena dia sudah melakukan penelitian terhadap semua jenis reksa dana yang dia ambil.




Buku ini cocok untuk saya yang baru mengenal reksa dana. Meski sepupu-sepupu saya sudah bercerita dan di internet banyak berita dan cerita tentang reksa dana, tapi saya lebih suka mendapatkan informasi yang runtun dan teratur. Dari sejumlah buku yang ada di toko buku, saya memilih buku ini, karena sesuai dengan kebutuhan saya. 

Dimulai dengan kisah mengenai investasi, kenapa harus berinvestasi, mengenal jenis-jenis investasi dan cara cerdas berinvestasi. Kalau ini saya sudah paham. Nah, bab-bab berikutnya adalah informasi yang saya butuhkan. Bab 2 membahas mengenai reksa dana, untuk apa reksa dana, untung rugi berinvestasi di reksa dana dan sebagainya. Yang menarik adalah ada hitung-hitungan sejumlah biaya yang akan membebani reksa dana tersebut. Tentu saja ini penting, karena kita berinvestasi, maka kita harus berhitung.

Oh ya, apakah saya sudah berinvestasi di reksa dana? Ya, saya sudah berinvestasi di sebuah bank negara tetangga, karena investasinya murah, cuma seratus ribu sebulan. Bandingkan dengan bank swasta nasional yang mewajibkan kepemilikan dana sekian ratus juta di dalam akun. Waduh, kalau menunggu tabungan sebesar itu, kapan bisa berinvestasi? Mulai dari kecil dulu ah, seperti peribahasa, "lama-lama menjadi bukit."